Cewek : mas, saya mau ngomong sesuatu.
Cowok : ya, silahkan mau ngomong apa?
Cewek : mantan aku datang padaku, dia minta balikan..!
Cowok : hah? Hmms, apakah kau masih mencintainya?
Cewek : entahlah,, tapi dia datang lebih dulu darimu mas. Menurut mas, apa yang harus aku lakukan?
Cowok : kalau kau masih sayang sama dia, pergilah padanya..!
Cewek : mas tidak cemburu? Mas tidak marah?
Cowok : [menunduk dengan suara lemah] buat apa aku marah, mungkin dia bisa menjaga kamu lebih baik dariku. Aku tahu, kalau memang benar kau mencintaiku, tak akan mungkin kau tega berpaling dariku. [setetes air mata jatuh membasahi pipi]
Cewek : [terdiam, terpaku dengan kata-kata kekasihnya] mas, mas... dengarkan aku, pandanglah aku...! Aku tak inginkan yang lain, aku janji akan menjaga cinta kita berdua, aku takkan pernah meninggalkanmu demi laki-laki lain. [lalu menyeka air mata kekasihnya]
Janganlah menguji tahap kecemburuan seorang lelaki, karena cemburunya akan terpendam hingga meneteskan air mata. Air mata bagi lelaki sangatlah berarti, lelaki akan terasa mati jika hatinya dilukai dan tak dihargai.
Kumpulan Cerita Cinta
Kamis, 29 Mei 2014
Cewek : mas, saya mau ngomong sesuatu.
Cowok : ya, silahkan mau ngomong apa?
Cewek : mantan aku datang padaku, dia minta balikan..!
Cowok : hah? Hmms, apakah kau masih mencintainya?
Cewek : entahlah,, tapi dia datang lebih dulu darimu mas. Menurut mas, apa yang harus aku lakukan?
Cowok : kalau kau masih sayang sama dia, pergilah padanya..!
Cewek : mas tidak cemburu? Mas tidak marah?
Cowok : [menunduk dengan suara lemah] buat apa aku marah, mungkin dia bisa menjaga kamu lebih baik dariku. Aku tahu, kalau memang benar kau mencintaiku, tak akan mungkin kau tega berpaling dariku. [setetes air mata jatuh membasahi pipi]
Cewek : [terdiam, terpaku dengan kata-kata kekasihnya] mas, mas... dengarkan aku, pandanglah aku...! Aku tak inginkan yang lain, aku janji akan menjaga cinta kita berdua, aku takkan pernah meninggalkanmu demi laki-laki lain. [lalu menyeka air mata kekasihnya]
Janganlah menguji tahap kecemburuan seorang lelaki, karena cemburunya akan terpendam hingga meneteskan air mata. Air mata bagi lelaki sangatlah berarti, lelaki akan terasa mati jika hatinya dilukai dan tak dihargai.
Jumat, 31 Januari 2014
AKHIR CERITA CINTABerawal dari sebuah kekagumanku padamu, Raka. Aku mencintaimu dalam ketidakberdayaanku sebagai seorang wanita yang hanya kau anggap sebagai sahabat, tak lebih. Pagi itu, aku bertemu denganmu yang tengah asyik membersihkan papan yang tak lain merupakan salah satu penyalur ilmu.
“Rajin sekali..” lirihku
Aku tak pernah berani menyapamu walau sebenarnya aku sangat ingin untuk itu. Hingga akhirnya aku menyadari bahwa aku benar-benar mengagumimu. Cowok jenius VIII-D, itulah sebutan anak-anak kelas untukmu. Raka, kamu ahli Matematika dan IPA, sedangkan aku? Aku hanya seorang makhluk pecinta sastra dan pembenci akan materi penuh angka.
“Siapa yang ingin menyelesaikannya?” tanya Bu Frida pagi itu.
“Saya, Bu!” ujarmu.
Lihatlah, berpasang-pasang mata menatapmu yang dengan santainya berjalan
menuju papan tulis. Kau menuliskannya dengan beberapa kali menatap
sebuah buku ditangan kirimu. Dan hebat, kau mendapat nilai sempurna
dalam mengerjakan soal serumit itu.
Hari-hari terus berlanjut dan akupun tetap kokoh dengan perasaanku padamu. Setiap kali aku melihatmu, aku tak sanggup menahan desiran-desiran itu dihatiku. Kini, ulangan semester pertama telah usai dan saatnya untuk menantikan detik-detik pembagian hasil prestasi siswa.
“Kelas VIII-D, kita mulai dari juara pertama.... Raka Dwitama!”
Aku sudah menyangka bahwa yang akan meraih kemenangan itu adalah dirimu. Dan aku? Tentu saja tidak bisa.
“Juara kedua.... Ranasya Anggraini!”
Kali ini, aku sama sekali tak menyangka. Aku yang ‘pas-pasan’ ini mendapat peringkat kedua dan akan berdiri disampingmu Raka? Aku malu, sangat malu hingga aku tak lagi fokus mendengarkan siapa seseorang yang akan berdiri disampingku nanti.
Degg..degg...
Aku merasakan jantungku bekerja keras hingga menimbulkan ledakan-ledakan aneh untukku. Aku terus merasakannya walau prosesi pemberian hadiah itu telah usai.
“Wah Rana hebat deh, aku juga pengen masuk tiga besar!” ucap Dara, sahabat ku.
“Ah kamu Da, aku juga nggak nyangka kok. Belum lagi bisa berdiri disamping Raka, aku deg-degan banget tahu nggak.” Balasku dengan diselingi curhat.
Dia sahabatku, tentu saja ia mengetahui bagaimana perasaanku terhadap Raka. Aku pun mengetahui hal yang sama, ia menyukai cowok tinggi yang duduk berseberangan dengan ku. Cowok itu Dafi, cowok berkuit hitam manis, berambut lurus dan bertubuh tinggi itulah yang menarik perhatiannya.
“Ra, Dafi peringkat berapa ya?” tanya Dara padaku.
Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, sebuah suara yang tak asing bagiku menyapa.
“Rana, selamat ya.” Ujarmu.
Ah Raka, kamu membuatku sangat malu.
“Eh Raka, ee..makasih. Kamu juga, selamat ya!” balasku gugup.
Waktu terus berputar seiring dengan perkembangan hari, berkembang pulalah kedekatan kita. Sejak kuberanikan diri untuk menyapamu lewat ‘pesan singkat’ dengan alas an menanyakan tugas kelompokku bersamamu, hubungan kita semakin dekat. Awalnya, kukira kau menyukai ku, bahkan aku berpikir kamu akan meminta hubungan lebih dari sebatas teman. Memang iya, tapi hanya sebatas sahabat. Tidak seperti kebanyakan teman-temanku yang lain, jika mereka dekat dengan seorang lelaki maka kelanjutannya adalah ‘pacaran’, hal yang belum pernah ku lakukan.
“Rana, tugas matematikamu sudah selesai belum?” tanyamu pagi itu.
“Seperti biasa Ka, bolong-bolong!” jawabku dengan wajah cemberut.
Dengan kebaikan hatimu, kamu mengambil sebuah buku bersampul biru dan memberikannya padaku.
“Thanks Ka, kamu baik banget.” Ucapku dengan tersenyum gembira.
Kitapun terus sejalan hingga akhirnya menempuh jenjang yang lebih tinggi, kelas IX. Tapi sayang, aku terpisah dengan banyak teman kesayanganku. Termasuk kamu dan Dara, begitu pula dengan Bu Faizah, guru favorit kita. Ramainya suasana kelas tetaplah membuatku merasa sepi disini, belum lagi aku tengah duduk bersama dengan seorang perempuan yang juga menyukaimu. Maria, dia juga menyukaimu Raka. Yang membedakanku dengannya sangat banyak, ia memiliki banyak kelebihan dariku. Postur tubuhnya lebih tinggi, kulitnya putih bersih, penampilannya diluar batas anggun, belum lagi ia merupakan salah satu vokalis ‘grup’ music sekolah. Sedangkan aku? Sangat jauh dibawah darinya.
“Rana, keperpustakaan bareng yuk!” ujarmu memanggilku.
“Ria, aku keperpus dulu ya. Mau ikut?” tanyaku sok akrab.
“Nggak Ra, nanti aku ganggu kalian belajar lagi.” Balasnya dengan wajah yang kurasa adalah milik seorang pencemburu.
Maafkan aku ya, Maria.
Selama diperjalanan menuju perpustakaan, kamu terus menceritakan banyak hal-hal lucu tentang kelasmu.
“Maklum, IX-C Ra, jadi anaknya gitu-gitu. Lucu!” ujarmu disela-sela tawa kecilku.
Saat kita melewati ruang guru, Bu Faizah memanggilmu.
“Raka, nanti siang temui Ibu diruang guru ya.” Pintanya.
“Baik Bu.” Balasmu semangat.
Setibanya diperpustakaan, seorang Ibu penjaga ruang membaca itu menyapaku.
“Rana, tumben jarang kesini.”
“Iya Bu, banyak tugas dikelas. Belum lagi, minggu depan sudah les.”
Setelah melakukan obrolan ringan, akupun segera menghampirimu yang telah duduk mematung dikursi favorit kita.
“Hei Ka, lagi ngarang puisi ya?” tebakku.
Sejak aku menjadi sahabatmu, kamu menjadi seseorang yang cukup terbuka. Aku pun mengetahui hobimu yang sama denganku kala itu, mengarang puisi.
“Iya, nih buat kamu. Bacanya dirumah aja ya Ra!” sahutmu dengan memberikan beberapa lembar kertas padaku.
“Oke bos!” ujarku dengan menempatkan diri disampingmu.
Sepulang dari sekolah, dengan cekatan kuraih beberapa lembar kertas yang semula berada di Lks Matematika itu.
For : Ranasya Anggraini
Mentari
Kau annggun dalam setiap lukisan cahaya
Kau surga bumi nan menyejukkan kalbuku
Kau penerang dalam gelap malamku
Mentari
Telah kutemukan dirimu dibumiku
Dan engkaulah itu.....
Tertanda
Raka Dwitama
Jika ini mimpi, kuharap takkan ada yang membangunkanku untuk meninggalkan kata-kata indah ini. Surat cintakah ini? Raka membuat surat cinta untukku?
Hari hari terus berlanjut, diperjalanan itulah Raka terus mengirimiku bait-bait indah itu. Oh Tuhan, aku tak ingin mematikan hari-hari itu. Namun tanpa sepengetahuanku, Raka menjalani hubungan ‘tersembunyi’ dengan Syela. Lihat saja, ia bahkan tak membiarkan Syela ditembus sang surya saat matahari yang terik memasuki area bimbel hari itu. Dan akhirnya, aku mengetahuinya melalui pembawa gossip terhangat sekolah yang bernamakan Elisa.
“Wah selamat ya Ka, kalian serasi ko.” Tulisku pada Blackberry messagger.
“Aku hanya ingin membantunya Ra. Syela selalu dikejar-kejar temanku yang notabennya adalah mantan kekasihnya. Kebetulan, rumah kami berdekatan dan tentu saja, ia segan mendekati Syela kembali setelah tahu bahwa kami berpacaran.” Balasnya.
~Oh, jadi itu alasannya. Tapi, benarkah demikian Ka? Entah mengapa, aku sedikit meragukanmu.~
Rasanya, aku hancur dan sangat menyedihkan. Aku baru mengalami derita cinta kepada sahabat yang mesti selalu terpendam dihatiku.
Sudah seminggu aku tidak bertemu dengan Raka, dia sibuk dengan kegiatan bersama Syela. Kamu jahat Ka! Lantas, untuk apa surat-surat itu? Aku sakit karenamu!
“Rana..” panggilmu.
“Ada apa?” jawabku datar.
“Kamu marah?”
“Tidak, aku hanya tidak ingin mengganggumu dengan Syela. Nanti dia cemburu lagi sama sahabatmu ini!”
“Ish kamu Ra, itu hanya hubungan palsu.”
“Be,,benarkah”
“Iya, aku mencintaimu.”
“Ra..ka,, kamu ini, becandanya keterlaluan deh!”
“Beneran, itu Cuma hubungan palsu ko. Lagian, Syela sudah mendapat paca baru. Jadi, peranku sebagai pacar palsunya udah clear. So, kamu mau nggak jadi pacar aku?”
“Ha? Kamu nggak lagi bercanda kan Ka?”
“Nggak. Jawab dong Ra, mau nggak!”
“Emm, aku minta waktu deh.”
“Berapa lama? 1 second, 2 minutes, 3 hours, or 1 day?”
“Hehe, 1 day1”
“Ok.”
Jika memang ini benar-benar bukan mimpi, ku mohon panjangkan umurku untuk besok dan hari-hari selannjutnya. Aku merasa menyesal karena telah meminta waktu untuk menjawabnya, dan berandai-andaipun telah menjadi pilihan.
“Raka, aku mau ko jadi pacar kamu.” Ujarku disela makan siang kita.
“Sahabat jadi cinta nih?” balasmu dengan tersenyum manis padaku.
Akupun mengangguk.
Kita telah sepakat untuk hanya melakukan hubungan secara sembunyi-sembunyi. Itulah keinginanku dan keinginanmu. Kita adalah pribadi yang tak menyukai keramaian, kita merupakan pribadi yang menyukai ketenangan. Itulah yang kau ungkapkan diwaktu itu.
Hari berlalu menjadi minggu dan bulan, dua bulan sudah kita menjalani hubungan tersembunyi dibalik persahabatan ini. Tapi, teman-temanku mulai mempertanyakan kejelasan statusku dengan dirimu. Kuakui, aku bukanlah penyimpan rahasia yang setia. Beberapa sahabat karibku mengetahuinya, seperti Dara, Vivi, Nifa, dan Nina. Mereka menanyakan kejelasan hubunganku denganmu, Raka. Sebab, kedekatanmu dengan beberapa orang perempuan membuat mereka curiga. Mungkin, itulah hati seorang sahabat yang teramat bersimpati pada saudara sehatinya. Hal itulah yang membuatku meragukanmu, hingga akhirnya peistiwa itu terjadi. Peristiwa yang kurasa lucu, aku tak menegurmu namun kamu tak marah padaku. Ingatkah dengan apa yang kau katakan?
“Ra (sayang), kalo ngambek tambah imut loh..”
“Ih Raka...”
Kita baikkan dan harmonis kembali, walau terkadang keraguan itu kembali hadir dihatiku. Mengapa selalu aku yang sering memulai, bukan dirimu. Kamu jarang mengirim pesan walau hanya untuk menanyakan sudahkan aku makan? Raka, aku meragukanmu lagi.
Perlahan-lahan, ujian itu telah tiba didepan mata, ujian yang menakutkan dan mengintai kelulusan.
“Ra, semangat ya!” ujarmu yang kala itu duduk bersebelahan denganku.
“Ok, semangat juga ya Ka!” balasku dengan tersenyum simpul padamu.
Waktupun berlalu, ujian telah selesai dan mengharuskan kita untuk menunggu. Dan saat ini, aku berdiri disampingmu dengn harap-harap cemas. Aku yakin, kamu memang bisa mempertahankan juara kelasmu, sayang. Sedangkan aku? Entahlah, aku ragu.
“LULUS”
Lima kata itulah yang membuatku hampir berjingkrak jika aku tidak mengingatmu yang berada disampingku. Akan sangat memalukan bukan jika aku berjingkrak-jingkrak didepanmu? Tapi, intaian perpisahan tengah menghantuiku. Aku diharuskan untuk mengikuti perpindahan kerja orang tuaku ke Banjarmasin, sedangkan dirimu akan tetap meneruskan SMK pilihanmu di Surabaya. Tapi lihatlah, hari ini adalah hari perpisahan kita. Dihari itu, aku memakai kebaya berwarna coklat. Sedangkan kamu terlihat keren dengan kemeja putih dan celana hitammu. Karena tempat duduk itu diatur berdasarkan nomor urut peserta ujian, aku dan kamu berdampingan. Ingatlah, disaat teman-teman sekolah mengatai kita. Mereka tersenyum-senyum melihat kejadian ini. Dimana sepasang ‘kekasih’ mendapat keberuntungan oleh sebuah kebetulan. Namun, hal berat telah menantiku untuk mengatakannya padamu.
“Raka, besok lusa aku akan pergi ke Banjarmasin. Aku akan melanjutkan sekolahku disana, e... bagaimana dengan hubungan kita?”
“Kita long distance!”
“Yakin?”
“Kamu meragukanku atau kamu yang tidak mau?”
“Bukan begitu,, aku mau ko.”
Itulah pertemuan terakhirku denganmu, karena kesibuknmu dalam mengurus pendaftaranlah yang menyebabkan hari terakhir ku di Surabaya tak berjalan dengan baik. Bahkan, sangat tidak baik bagiku. Raka, untukmu aku menangis meninggalkan kota kelahiranku ini. Untukmu dan beberapa sanak saudaraku disini, serta untuk beberapa sahabat yang telah kuanggap saudara sehatiku. Aku menangis, Raka. Tidakkah kamu ingin hadir disini?, seperti beberapa bulan yang lalu kau hapuskan air mataku.
Satu bulan, dua bulan, hubungan kita tetap harmonis seperti dulu. Namun, dibulan ketiga kamu mulai berubah. Perhatianmu berkurang, sms mu pun jarang dating, apalagi telepon, kamu bahkan tidak melakukannya. Raka, tidak pentingkah aku dihatimu? Untungnya, kesibukanku dijejaring social cukup mampu membuatku ‘tak’ resah dengan keadaan kita. Aku mulai rajin membaca beberapa kata mutiara dan artikel berlafadzkan islam, agama terindah yang pernah ku kenal. Hingga disuatu hari, aku membacanya.
“PACARAN ITU BOLEH, TAPI......”
1) Tidak ada pegangan tangan.
2) Tidak ada waktu berduaan.
3) Tidak ada status hubungan.
4) Tidak ada kata mesra bergelantungan.
5) Dan yang utama, harus setelah NIKAH.
“ It’s not shame to be a Jomblo,
Be proud.... be a Josh
~~ Jomblo Sampai Halal ~~
Aku tertohok, sangat tertohok dengan apa yang baru saja kuperoleh melalui android phone-ku. Jujur saja, aku merasa hina akan diriku, aku munafik dihadapan Tuhanku. Entah sudah berapa banyak butiran dosa yang telah ku buat. Haruskah aku memutuskan hubungan ini? Hubungan yang telah kujalin hampir 365 hari bersama Raka, sahabat sekaligus kekasihku. Baiklah, aku akan menunggu hari ke-365 yang akan berlangsung tiga hari kedepan. Lebih dari itu, aku tidak ingin terus mengganggu Raka. Ia telah menjadi ketua dibergai organisasi, iapun menjadi salah satu anggota Osis.
“Ra, kita putus!” tulismu melalui pesan singkat.
Aku menangis, padahal inilah yang aku inginkan. Raka, aku belum memiliki kekuatan untuk ini. Ku mohon, beri aku sedikit ketabahan untuk menjawabmu.
“Iya.” Tulisku.
“Tapi, kita tetap sahabat ya Ra. Aku nggak mau kehilangan sahabat baik sepertimu.” Balasmu lagi.
“^_^” hanya itu yang dapat kutuliskan padamu.
Beberapa bulan telah berlalu, aku hanya mendapat beberapa pesan dan kabar darimu. Lambat laun, kita tak pernah saling mengabari. Dan hari ini, aku mendapat status hubungan barumu dijejaring social facebook.
“Berpacaran dengan Dewi Ramadhani”
Itulah yang kudapatkan distatus hubungan facebook mu. Untungnya, aku telah bergabung dengan beberapa komunitas yang membuatku sedikit melupakanmu. Disanalah kutemukan berbagai hal baru yang tak pernah kupelajari.
Akhir-akhir ini, kamu mulai menghubungiku kembali dengan beberapa kalimat motivasimu. Kuakui, kamu telah mampu mewujudkan cita-cita mudamu. Gelar ketua Osis telah kau dapatkan dengan mudah. Dan lengkaplah sudah ketenaranmu, hingga kembali muncullah desiran-desiran itu. Rasanya aku ingin menenggelamkan diri dibumi, agar aku tak lagi berjumpa denganmu walaupun hanya sebuah ketidaksengajaan. Ya, kita bertemu disebuah jalan raya. Tatapan mata kita bertemu, hingga akhirnya senyumku terulur untukmu.
“Senyum yang kurindukan!”
“Ah tidak, ini tidak boleh. Astagfirullahh...”
Hari demi hari terus berlalu, aku dan kamu semakin dewasa menapaki samudera lautan yang penuh dengan ombak ini. Kita telah bermetamorfosis menjadi mahasiswa. Aku kembali melanjutkan kuliahku di Surabaya, pelajaran bahasa arablah pilihanku. Dua tahun tak bertemu membuatku merasa malu saat bertemu denganmu. Kamu terlihat dewasa dengan kemeja batik berlengan pendek dan celana jeansmu, sedangkan aku tampak berbeda dengan rok panjang, baju longgar dan jilbab besarku.
“Wah, kamu jauh berbeda ya Ra. Semakin dewasa!” pujimu.
“Kamu juga berubah kali, tambah dewasa!” balasku disela-sela menuruni tangga bersamamu.
Lambat laun, kita mulai akrab kembali. berbagai macam pesan kau kirimkan kembali padaku. Namun maaf, permintaanmu tak dapat kuterima dengan persetujuan. Karena kini, aku harus menjaga iffah dan harga diriku sebagai seorang muslimah.
“Maaf Ka, aku tidak bisa untuk mengulangnya kembali. Aku, aku, aku sudah dikhitbah.” Jawabku yang kali itu mengejutkan wajahmu.
“Dikhitbah? Siapa?” tanyamu.
“Tunggu saja undanganku!” sahutku dengan segera berpamitan padamu.
Lihatlah, aku ingin menangis karenamu.
Senin, 10 oktober 2012 Raka, inilah akhir perjalanan cintaku yang tak berujung bersamamu. Melainkan dengan orang lain yang hadirnya lebih jauh terlambat dari kedatanganmu dihatiku. Seorang ikhwan yang merupakan anggota aktif di Lembaga dakwah kampusku, yang akupun turut aktif didalamnya. Hidup ini adalah piihan, dan itulah pilihanku. Farid Arrasyidi Muhammad, kaulah jawaban atas semua munajat dan sujud panjangku. Bismillahh.....
Hari-hari terus berlanjut dan akupun tetap kokoh dengan perasaanku padamu. Setiap kali aku melihatmu, aku tak sanggup menahan desiran-desiran itu dihatiku. Kini, ulangan semester pertama telah usai dan saatnya untuk menantikan detik-detik pembagian hasil prestasi siswa.
“Kelas VIII-D, kita mulai dari juara pertama.... Raka Dwitama!”
Aku sudah menyangka bahwa yang akan meraih kemenangan itu adalah dirimu. Dan aku? Tentu saja tidak bisa.
“Juara kedua.... Ranasya Anggraini!”
Kali ini, aku sama sekali tak menyangka. Aku yang ‘pas-pasan’ ini mendapat peringkat kedua dan akan berdiri disampingmu Raka? Aku malu, sangat malu hingga aku tak lagi fokus mendengarkan siapa seseorang yang akan berdiri disampingku nanti.
Degg..degg...
Aku merasakan jantungku bekerja keras hingga menimbulkan ledakan-ledakan aneh untukku. Aku terus merasakannya walau prosesi pemberian hadiah itu telah usai.
“Wah Rana hebat deh, aku juga pengen masuk tiga besar!” ucap Dara, sahabat ku.
“Ah kamu Da, aku juga nggak nyangka kok. Belum lagi bisa berdiri disamping Raka, aku deg-degan banget tahu nggak.” Balasku dengan diselingi curhat.
Dia sahabatku, tentu saja ia mengetahui bagaimana perasaanku terhadap Raka. Aku pun mengetahui hal yang sama, ia menyukai cowok tinggi yang duduk berseberangan dengan ku. Cowok itu Dafi, cowok berkuit hitam manis, berambut lurus dan bertubuh tinggi itulah yang menarik perhatiannya.
“Ra, Dafi peringkat berapa ya?” tanya Dara padaku.
Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, sebuah suara yang tak asing bagiku menyapa.
“Rana, selamat ya.” Ujarmu.
Ah Raka, kamu membuatku sangat malu.
“Eh Raka, ee..makasih. Kamu juga, selamat ya!” balasku gugup.
Waktu terus berputar seiring dengan perkembangan hari, berkembang pulalah kedekatan kita. Sejak kuberanikan diri untuk menyapamu lewat ‘pesan singkat’ dengan alas an menanyakan tugas kelompokku bersamamu, hubungan kita semakin dekat. Awalnya, kukira kau menyukai ku, bahkan aku berpikir kamu akan meminta hubungan lebih dari sebatas teman. Memang iya, tapi hanya sebatas sahabat. Tidak seperti kebanyakan teman-temanku yang lain, jika mereka dekat dengan seorang lelaki maka kelanjutannya adalah ‘pacaran’, hal yang belum pernah ku lakukan.
“Rana, tugas matematikamu sudah selesai belum?” tanyamu pagi itu.
“Seperti biasa Ka, bolong-bolong!” jawabku dengan wajah cemberut.
Dengan kebaikan hatimu, kamu mengambil sebuah buku bersampul biru dan memberikannya padaku.
“Thanks Ka, kamu baik banget.” Ucapku dengan tersenyum gembira.
Kitapun terus sejalan hingga akhirnya menempuh jenjang yang lebih tinggi, kelas IX. Tapi sayang, aku terpisah dengan banyak teman kesayanganku. Termasuk kamu dan Dara, begitu pula dengan Bu Faizah, guru favorit kita. Ramainya suasana kelas tetaplah membuatku merasa sepi disini, belum lagi aku tengah duduk bersama dengan seorang perempuan yang juga menyukaimu. Maria, dia juga menyukaimu Raka. Yang membedakanku dengannya sangat banyak, ia memiliki banyak kelebihan dariku. Postur tubuhnya lebih tinggi, kulitnya putih bersih, penampilannya diluar batas anggun, belum lagi ia merupakan salah satu vokalis ‘grup’ music sekolah. Sedangkan aku? Sangat jauh dibawah darinya.
“Rana, keperpustakaan bareng yuk!” ujarmu memanggilku.
“Ria, aku keperpus dulu ya. Mau ikut?” tanyaku sok akrab.
“Nggak Ra, nanti aku ganggu kalian belajar lagi.” Balasnya dengan wajah yang kurasa adalah milik seorang pencemburu.
Maafkan aku ya, Maria.
Selama diperjalanan menuju perpustakaan, kamu terus menceritakan banyak hal-hal lucu tentang kelasmu.
“Maklum, IX-C Ra, jadi anaknya gitu-gitu. Lucu!” ujarmu disela-sela tawa kecilku.
Saat kita melewati ruang guru, Bu Faizah memanggilmu.
“Raka, nanti siang temui Ibu diruang guru ya.” Pintanya.
“Baik Bu.” Balasmu semangat.
Setibanya diperpustakaan, seorang Ibu penjaga ruang membaca itu menyapaku.
“Rana, tumben jarang kesini.”
“Iya Bu, banyak tugas dikelas. Belum lagi, minggu depan sudah les.”
Setelah melakukan obrolan ringan, akupun segera menghampirimu yang telah duduk mematung dikursi favorit kita.
“Hei Ka, lagi ngarang puisi ya?” tebakku.
Sejak aku menjadi sahabatmu, kamu menjadi seseorang yang cukup terbuka. Aku pun mengetahui hobimu yang sama denganku kala itu, mengarang puisi.
“Iya, nih buat kamu. Bacanya dirumah aja ya Ra!” sahutmu dengan memberikan beberapa lembar kertas padaku.
“Oke bos!” ujarku dengan menempatkan diri disampingmu.
Sepulang dari sekolah, dengan cekatan kuraih beberapa lembar kertas yang semula berada di Lks Matematika itu.
For : Ranasya Anggraini
Mentari
Kau annggun dalam setiap lukisan cahaya
Kau surga bumi nan menyejukkan kalbuku
Kau penerang dalam gelap malamku
Mentari
Telah kutemukan dirimu dibumiku
Dan engkaulah itu.....
Tertanda
Raka Dwitama
Jika ini mimpi, kuharap takkan ada yang membangunkanku untuk meninggalkan kata-kata indah ini. Surat cintakah ini? Raka membuat surat cinta untukku?
Hari hari terus berlanjut, diperjalanan itulah Raka terus mengirimiku bait-bait indah itu. Oh Tuhan, aku tak ingin mematikan hari-hari itu. Namun tanpa sepengetahuanku, Raka menjalani hubungan ‘tersembunyi’ dengan Syela. Lihat saja, ia bahkan tak membiarkan Syela ditembus sang surya saat matahari yang terik memasuki area bimbel hari itu. Dan akhirnya, aku mengetahuinya melalui pembawa gossip terhangat sekolah yang bernamakan Elisa.
“Wah selamat ya Ka, kalian serasi ko.” Tulisku pada Blackberry messagger.
“Aku hanya ingin membantunya Ra. Syela selalu dikejar-kejar temanku yang notabennya adalah mantan kekasihnya. Kebetulan, rumah kami berdekatan dan tentu saja, ia segan mendekati Syela kembali setelah tahu bahwa kami berpacaran.” Balasnya.
~Oh, jadi itu alasannya. Tapi, benarkah demikian Ka? Entah mengapa, aku sedikit meragukanmu.~
Rasanya, aku hancur dan sangat menyedihkan. Aku baru mengalami derita cinta kepada sahabat yang mesti selalu terpendam dihatiku.
Sudah seminggu aku tidak bertemu dengan Raka, dia sibuk dengan kegiatan bersama Syela. Kamu jahat Ka! Lantas, untuk apa surat-surat itu? Aku sakit karenamu!
“Rana..” panggilmu.
“Ada apa?” jawabku datar.
“Kamu marah?”
“Tidak, aku hanya tidak ingin mengganggumu dengan Syela. Nanti dia cemburu lagi sama sahabatmu ini!”
“Ish kamu Ra, itu hanya hubungan palsu.”
“Be,,benarkah”
“Iya, aku mencintaimu.”
“Ra..ka,, kamu ini, becandanya keterlaluan deh!”
“Beneran, itu Cuma hubungan palsu ko. Lagian, Syela sudah mendapat paca baru. Jadi, peranku sebagai pacar palsunya udah clear. So, kamu mau nggak jadi pacar aku?”
“Ha? Kamu nggak lagi bercanda kan Ka?”
“Nggak. Jawab dong Ra, mau nggak!”
“Emm, aku minta waktu deh.”
“Berapa lama? 1 second, 2 minutes, 3 hours, or 1 day?”
“Hehe, 1 day1”
“Ok.”
Jika memang ini benar-benar bukan mimpi, ku mohon panjangkan umurku untuk besok dan hari-hari selannjutnya. Aku merasa menyesal karena telah meminta waktu untuk menjawabnya, dan berandai-andaipun telah menjadi pilihan.
“Raka, aku mau ko jadi pacar kamu.” Ujarku disela makan siang kita.
“Sahabat jadi cinta nih?” balasmu dengan tersenyum manis padaku.
Akupun mengangguk.
Kita telah sepakat untuk hanya melakukan hubungan secara sembunyi-sembunyi. Itulah keinginanku dan keinginanmu. Kita adalah pribadi yang tak menyukai keramaian, kita merupakan pribadi yang menyukai ketenangan. Itulah yang kau ungkapkan diwaktu itu.
Hari berlalu menjadi minggu dan bulan, dua bulan sudah kita menjalani hubungan tersembunyi dibalik persahabatan ini. Tapi, teman-temanku mulai mempertanyakan kejelasan statusku dengan dirimu. Kuakui, aku bukanlah penyimpan rahasia yang setia. Beberapa sahabat karibku mengetahuinya, seperti Dara, Vivi, Nifa, dan Nina. Mereka menanyakan kejelasan hubunganku denganmu, Raka. Sebab, kedekatanmu dengan beberapa orang perempuan membuat mereka curiga. Mungkin, itulah hati seorang sahabat yang teramat bersimpati pada saudara sehatinya. Hal itulah yang membuatku meragukanmu, hingga akhirnya peistiwa itu terjadi. Peristiwa yang kurasa lucu, aku tak menegurmu namun kamu tak marah padaku. Ingatkah dengan apa yang kau katakan?
“Ra (sayang), kalo ngambek tambah imut loh..”
“Ih Raka...”
Kita baikkan dan harmonis kembali, walau terkadang keraguan itu kembali hadir dihatiku. Mengapa selalu aku yang sering memulai, bukan dirimu. Kamu jarang mengirim pesan walau hanya untuk menanyakan sudahkan aku makan? Raka, aku meragukanmu lagi.
Perlahan-lahan, ujian itu telah tiba didepan mata, ujian yang menakutkan dan mengintai kelulusan.
“Ra, semangat ya!” ujarmu yang kala itu duduk bersebelahan denganku.
“Ok, semangat juga ya Ka!” balasku dengan tersenyum simpul padamu.
Waktupun berlalu, ujian telah selesai dan mengharuskan kita untuk menunggu. Dan saat ini, aku berdiri disampingmu dengn harap-harap cemas. Aku yakin, kamu memang bisa mempertahankan juara kelasmu, sayang. Sedangkan aku? Entahlah, aku ragu.
“LULUS”
Lima kata itulah yang membuatku hampir berjingkrak jika aku tidak mengingatmu yang berada disampingku. Akan sangat memalukan bukan jika aku berjingkrak-jingkrak didepanmu? Tapi, intaian perpisahan tengah menghantuiku. Aku diharuskan untuk mengikuti perpindahan kerja orang tuaku ke Banjarmasin, sedangkan dirimu akan tetap meneruskan SMK pilihanmu di Surabaya. Tapi lihatlah, hari ini adalah hari perpisahan kita. Dihari itu, aku memakai kebaya berwarna coklat. Sedangkan kamu terlihat keren dengan kemeja putih dan celana hitammu. Karena tempat duduk itu diatur berdasarkan nomor urut peserta ujian, aku dan kamu berdampingan. Ingatlah, disaat teman-teman sekolah mengatai kita. Mereka tersenyum-senyum melihat kejadian ini. Dimana sepasang ‘kekasih’ mendapat keberuntungan oleh sebuah kebetulan. Namun, hal berat telah menantiku untuk mengatakannya padamu.
“Raka, besok lusa aku akan pergi ke Banjarmasin. Aku akan melanjutkan sekolahku disana, e... bagaimana dengan hubungan kita?”
“Kita long distance!”
“Yakin?”
“Kamu meragukanku atau kamu yang tidak mau?”
“Bukan begitu,, aku mau ko.”
Itulah pertemuan terakhirku denganmu, karena kesibuknmu dalam mengurus pendaftaranlah yang menyebabkan hari terakhir ku di Surabaya tak berjalan dengan baik. Bahkan, sangat tidak baik bagiku. Raka, untukmu aku menangis meninggalkan kota kelahiranku ini. Untukmu dan beberapa sanak saudaraku disini, serta untuk beberapa sahabat yang telah kuanggap saudara sehatiku. Aku menangis, Raka. Tidakkah kamu ingin hadir disini?, seperti beberapa bulan yang lalu kau hapuskan air mataku.
Satu bulan, dua bulan, hubungan kita tetap harmonis seperti dulu. Namun, dibulan ketiga kamu mulai berubah. Perhatianmu berkurang, sms mu pun jarang dating, apalagi telepon, kamu bahkan tidak melakukannya. Raka, tidak pentingkah aku dihatimu? Untungnya, kesibukanku dijejaring social cukup mampu membuatku ‘tak’ resah dengan keadaan kita. Aku mulai rajin membaca beberapa kata mutiara dan artikel berlafadzkan islam, agama terindah yang pernah ku kenal. Hingga disuatu hari, aku membacanya.
“PACARAN ITU BOLEH, TAPI......”
1) Tidak ada pegangan tangan.
2) Tidak ada waktu berduaan.
3) Tidak ada status hubungan.
4) Tidak ada kata mesra bergelantungan.
5) Dan yang utama, harus setelah NIKAH.
“ It’s not shame to be a Jomblo,
Be proud.... be a Josh
~~ Jomblo Sampai Halal ~~
Aku tertohok, sangat tertohok dengan apa yang baru saja kuperoleh melalui android phone-ku. Jujur saja, aku merasa hina akan diriku, aku munafik dihadapan Tuhanku. Entah sudah berapa banyak butiran dosa yang telah ku buat. Haruskah aku memutuskan hubungan ini? Hubungan yang telah kujalin hampir 365 hari bersama Raka, sahabat sekaligus kekasihku. Baiklah, aku akan menunggu hari ke-365 yang akan berlangsung tiga hari kedepan. Lebih dari itu, aku tidak ingin terus mengganggu Raka. Ia telah menjadi ketua dibergai organisasi, iapun menjadi salah satu anggota Osis.
“Ra, kita putus!” tulismu melalui pesan singkat.
Aku menangis, padahal inilah yang aku inginkan. Raka, aku belum memiliki kekuatan untuk ini. Ku mohon, beri aku sedikit ketabahan untuk menjawabmu.
“Iya.” Tulisku.
“Tapi, kita tetap sahabat ya Ra. Aku nggak mau kehilangan sahabat baik sepertimu.” Balasmu lagi.
“^_^” hanya itu yang dapat kutuliskan padamu.
Beberapa bulan telah berlalu, aku hanya mendapat beberapa pesan dan kabar darimu. Lambat laun, kita tak pernah saling mengabari. Dan hari ini, aku mendapat status hubungan barumu dijejaring social facebook.
“Berpacaran dengan Dewi Ramadhani”
Itulah yang kudapatkan distatus hubungan facebook mu. Untungnya, aku telah bergabung dengan beberapa komunitas yang membuatku sedikit melupakanmu. Disanalah kutemukan berbagai hal baru yang tak pernah kupelajari.
Akhir-akhir ini, kamu mulai menghubungiku kembali dengan beberapa kalimat motivasimu. Kuakui, kamu telah mampu mewujudkan cita-cita mudamu. Gelar ketua Osis telah kau dapatkan dengan mudah. Dan lengkaplah sudah ketenaranmu, hingga kembali muncullah desiran-desiran itu. Rasanya aku ingin menenggelamkan diri dibumi, agar aku tak lagi berjumpa denganmu walaupun hanya sebuah ketidaksengajaan. Ya, kita bertemu disebuah jalan raya. Tatapan mata kita bertemu, hingga akhirnya senyumku terulur untukmu.
“Senyum yang kurindukan!”
“Ah tidak, ini tidak boleh. Astagfirullahh...”
Hari demi hari terus berlalu, aku dan kamu semakin dewasa menapaki samudera lautan yang penuh dengan ombak ini. Kita telah bermetamorfosis menjadi mahasiswa. Aku kembali melanjutkan kuliahku di Surabaya, pelajaran bahasa arablah pilihanku. Dua tahun tak bertemu membuatku merasa malu saat bertemu denganmu. Kamu terlihat dewasa dengan kemeja batik berlengan pendek dan celana jeansmu, sedangkan aku tampak berbeda dengan rok panjang, baju longgar dan jilbab besarku.
“Wah, kamu jauh berbeda ya Ra. Semakin dewasa!” pujimu.
“Kamu juga berubah kali, tambah dewasa!” balasku disela-sela menuruni tangga bersamamu.
Lambat laun, kita mulai akrab kembali. berbagai macam pesan kau kirimkan kembali padaku. Namun maaf, permintaanmu tak dapat kuterima dengan persetujuan. Karena kini, aku harus menjaga iffah dan harga diriku sebagai seorang muslimah.
“Maaf Ka, aku tidak bisa untuk mengulangnya kembali. Aku, aku, aku sudah dikhitbah.” Jawabku yang kali itu mengejutkan wajahmu.
“Dikhitbah? Siapa?” tanyamu.
“Tunggu saja undanganku!” sahutku dengan segera berpamitan padamu.
Lihatlah, aku ingin menangis karenamu.
Senin, 10 oktober 2012 Raka, inilah akhir perjalanan cintaku yang tak berujung bersamamu. Melainkan dengan orang lain yang hadirnya lebih jauh terlambat dari kedatanganmu dihatiku. Seorang ikhwan yang merupakan anggota aktif di Lembaga dakwah kampusku, yang akupun turut aktif didalamnya. Hidup ini adalah piihan, dan itulah pilihanku. Farid Arrasyidi Muhammad, kaulah jawaban atas semua munajat dan sujud panjangku. Bismillahh.....
Calon Istriku…
Tiada kata yang lebih layak kuucapkan selain puji dan syukur kepada Allah yang telah memilihkan pasangan hidup yang terbaik untukku, dan insya allah engkaulah orangnya. Walaupun… sejujurnya seringkali terbersit keraguan di hatiku, pantaskah aku yang masih apa adanya ini mendampingimu?
Tiada kata yang lebih layak kuucapkan selain puji dan syukur kepada Allah yang telah memilihkan pasangan hidup yang terbaik untukku, dan insya allah engkaulah orangnya. Walaupun… sejujurnya seringkali terbersit keraguan di hatiku, pantaskah aku yang masih apa adanya ini mendampingimu?
Calon Istriku…
Kelak aku berharap engkau tidak kecewa mempunyai suami seperti aku. Aku bukanlah suami sholeh yang mungkin engkau idamkan selama ini untuk menjadi panutan terbaikmu. Namun, aku adalah seorang suami yang baru belajar dan jatuh bangun untuk berusaha menjadi yang terbaik.
Kelak aku berharap engkau tidak kecewa mempunyai suami seperti aku. Aku bukanlah suami sholeh yang mungkin engkau idamkan selama ini untuk menjadi panutan terbaikmu. Namun, aku adalah seorang suami yang baru belajar dan jatuh bangun untuk berusaha menjadi yang terbaik.
Calon Istriku…
Dalam perjalanan aku mengenalmu, mungkin banyak kesalahan-kesalahan yang aku lakukan, yang mungkin membuatmu kesal, atau bahkan mungkin tidak ridho kepadaku. Karena itu aku mohon, katakan dengan terus terang jika aku salah, agar aku dapat mengubah perilaku ku itu, dan ma’afkanlah aku. Dan aku mohon, jangan pernah ada satu malam pun yang kau lewati dengan ketidak ridhoanmu padaku. Aku bertekad InsyaAllah aku tidak akan menutup mataku untuk tidur sebelum engkau mema’afkan aku, sebab aku khawatir, jika Allah menakdirkan mengambil nyawaku pada saat aku tidur dan dalam keadaan engkau tidak ridho kepadaku, maka aku tidak akan sanggup menahan pedihnya siksa dari Allah .
Dalam perjalanan aku mengenalmu, mungkin banyak kesalahan-kesalahan yang aku lakukan, yang mungkin membuatmu kesal, atau bahkan mungkin tidak ridho kepadaku. Karena itu aku mohon, katakan dengan terus terang jika aku salah, agar aku dapat mengubah perilaku ku itu, dan ma’afkanlah aku. Dan aku mohon, jangan pernah ada satu malam pun yang kau lewati dengan ketidak ridhoanmu padaku. Aku bertekad InsyaAllah aku tidak akan menutup mataku untuk tidur sebelum engkau mema’afkan aku, sebab aku khawatir, jika Allah menakdirkan mengambil nyawaku pada saat aku tidur dan dalam keadaan engkau tidak ridho kepadaku, maka aku tidak akan sanggup menahan pedihnya siksa dari Allah .
Calon Istriku…
Kelak ketika aku menjadi suami mu nanti, mungkin terkadang Allah menghendaki kita terpisah dalam waktu yang cepat atau cukup lama. Karena itu, sejak awal aku mohon ma’af dan kerelaanmu, tentu saja akan banyak kewajibanku sebagai seorang suami yang tidak biasa kutunaikan dengan baik selama masa tersebut. Semoga Allah membalas kesabaranmu dan menggantikannya dengan surga-Nya. Amien
Kelak ketika aku menjadi suami mu nanti, mungkin terkadang Allah menghendaki kita terpisah dalam waktu yang cepat atau cukup lama. Karena itu, sejak awal aku mohon ma’af dan kerelaanmu, tentu saja akan banyak kewajibanku sebagai seorang suami yang tidak biasa kutunaikan dengan baik selama masa tersebut. Semoga Allah membalas kesabaranmu dan menggantikannya dengan surga-Nya. Amien
Calon Istriku…
Simpanlah surat cinta dariku ini baik-baik. Kelak jika aku menjadi suami mu. Dan jika suatu saat aku lalai, maka tunjukkanlah surat ini untuk mengingatkanku. Semoga Allah memberi kekuatan kepadaku untuk senantiasa belajar menjadi suami yang sholeh & terbaik buat kamu.
Simpanlah surat cinta dariku ini baik-baik. Kelak jika aku menjadi suami mu. Dan jika suatu saat aku lalai, maka tunjukkanlah surat ini untuk mengingatkanku. Semoga Allah memberi kekuatan kepadaku untuk senantiasa belajar menjadi suami yang sholeh & terbaik buat kamu.
Dengan cinta,
Calon Suamimu Tercinta
Calon Suamimu Tercinta
Sabtu, 07 Desember 2013
Cinta Selalu Ada

Cinta bukanlah sesuatu hal yang tabu lagi untuk dikenal
Banyak orang merasa bahagia karena cinta
Cinta akan menjadi sebuah kasih sayang...
Jika orang yang dicintai membalas cinta yang diberikan
Namun, cinta akan menjadi amarah….
Jika orang yang dicintai malah mendustainya….
Cinta takkan pernah mati
Melainkan akan tetap tumbuh disetiap
Pori-pori dan aliran darah umat manusia
Hingga akhir waktu…
Makassar benar-benar indah di kala pagi hari. Udaranya sejuk, suasananya damai dan terasa menyenangkan. Tanpa ku sadari setahun sudah aku berada di kota impianku. Hmmm,,,, semakin di pandang semakin terasa damai.
Pagi yang cerah ini aku dihadapakan dengan alam yang hijau dan langit yang cerah untuk menyambut datangnya sinar mentari pagi. Sesekali di arah timur, terlihat kemuning emas yang membahana, suara kendaraan yang berlalu lalang dan suara si jago merah yang selalu membangunkan seluruh umat di pagi hari. Meskipun semuanya terasa bising dan tak enak didengar. Namun bagiku itu semua adalah keterpaduan suara musik yang indah. Hembusan angin pun seolah tak mau kalah untuk memberikan nadanya sendiri. Hati, jiwa, dan perasaanku pun ikut terbawa dengan semua itu. Maha besar Allah yang telah menciptakan semua keindahan ini. Subhanallah….
Di awal tahun 2012 ini, semua harus berubah. Tentunya menjadi lebih baik. Hah,,, cerita di tahun 2012 akan segera di mulai. Dan yang pastinya bersiaplah untuk semua yang akan datang padamu. Tetap semangattttt……!!!!!!!
Hari kedua di tahun baru ini, aku menemukan teman baru yang begitu baik. Dia selalu mengajakku chering di setiap waktunya. Dia adalah arvian. Arvian adalah teman satu kampus dan satu fakultas denganku. Selama ini aku tak menyadarinya, karena dulu aku tergolong orang yang kurang bergaul dan juga pendiam. Kalaupun ada temanku, dia hanyalah Narnia dan jesica. Arvian adalah mahasiswa yang pintar namun terkadang tak pernah beruntung. Ada satu hal yang mesti diubah olehnya, sikap malasnya yang selalu menggerogoti dirinya.
Terkadang dia sering datang terlambat disaat jam kuliah sudah dimulai. Bahkan ada yang lebih parah dari itu, banyak tugas yang dia lalaikan. Aku tahu semua ini, karena ternyata Arvian cukup terkenal di kampus dengan julukan si malas. Dia hanya butuh motivasi. Entahlah apa yang membuat dia seperti itu. Akupun tak tahu. Aku tak berani menanyakannya, karena aku takut menyakiti persaannya. Terlalu sulit bagiku mencari teman yang bisa di percaya, itulah yang menyebabkanku berusaha untuk menjaga persahabatan ini.
Hari-hari baru menggelut dalam hidupku, Arvian teman baikku selalu hadir di setiap lembar hari-hariku. Semakin lama, aku merasa dia semakin berubah. Berubah menjadi anak yang manis. Sekarang dia sudah mulai belajar membuang rasa malasnya dengan selalu tepat waktu mengikuti jadwal kuliah dan selalu mengerjakan tugas-tugas kampus. Hah,,, aku bahagia dengan perubahannya itu. Hal itu membuatku semakin yakin akan sebuah perubahan. Akhirnya hal yang baik terjadi juga padanya. Memang benar apa yang sering di katakan oleh Guru SMA ku dulu, “selalu ada jalan untuk menuju ke arah yang lebih baik.” Namun, tak jarang jalan yang kita tempuhi itu selalu mulus. Tetapi ada cara untuk memuluskannya yaitu jangan pernah melupakan Tuhan di setiap hal apapun yang kita lakukan. Dan keyakinan untuk berubah harus lebih besar dari pada sebuah keegoisan. Yakinlah!!!! Tuhan selalu ada di setiap hal apapun yang kita lakukan. Dan yang pastinya Dia selalu mengawasi kita.
Hari yang cerah untuk jiwaku yang cerah saat ini. Entahlah apa yang tengah terjadi denganku. Aku merasa semuanya terasa menyenangkan bila bersama dengan Arvian. Ya Tuhan… aku takut, persaan ini adalah cinta? Aku takut menghancurkan persahabatan yang baik ini hanya karena keegoisanku untuk memilikinya.
Setiap kali bertemu dengan Arvian, pasti hatiku terasa deg-degkan. Namun, aku berusaha menyembunyikannya dan berusaha agar dia tidak tahu apapun yang aku rasakan terhadapnya. Kami selalu bertemu di perpustakaan untuk belajar bersama. Semua itu membuatku bahagia. Lambat laun perasaan ini menggerogoti hatiku. Hah,,, aku pasti bisa menanganinya. Ya, bisa!
Hingga di suatu hari, Arvian memanggilku. Dia ingin mengatakan sesuatu ke padaku.
“Vi, boleh nda’ aku nanya sesuatu ama kamu?” tanya Arvian serius.
“ hm… tentu saja” Jawabku.
“Kelihatannya kamu tidak suka menjalin suatu hubungan pacaran?”. Hahahahaha……. Aku tertawa lucu!
“Ternyata cuman ini yang ingin kamu tanyakan padaku? kamu benar-benar membuatku ingin tertawa.” Aku tetawa ngakak. Namun, semuanya terhenti ketika Arvian menatapku dengan serius. Sumpah,,. Bola matanya itu benar-benar indah. Matanya mencerminkan suatu ketulusan yang membuatku langsung terpaku menatapnya.
“Aku serius Vi. Kita kan sahabatan, jadi kamu bisa donk jawab pertanyaanku?” wajah berharap.
“Hm,,,, gimana yach harus mengatakannya? aku juga bingung ngejelasinnya. Intinya aku harus menyelesaikan semua studiku dulu baru dech aku bisa pacaran.” nada meyakinkan.
“Cuman itu doank?” Tanya Arvian padaku. Sebenarnya sich ada masa laluku yang suram and sorry aku ga’ bisa certain ke kamu. Maaf yach! ini bukan pelit, tapi ini rahasia. Hehehe…..” Wajah meyakinkan dariku.
“Ok, aku bisa engerti kok”. Akupun merasa penasaran dan balik bertanya kepada dia.
“Bdw, kenapa kamu tanyakan hal itu padaku?” tanyaku penasaran.
“tidak , cuman pengen tahu aja” jawab Arvian. Selepas itu, aku dan Arvian pun melupakan semuanya. Dan kami pun berpisah karena aku mesti melanjutkan jam kuliahku.
Di kost,,,,
Sambi menggoreskan tinta di atas kertas putih diaryku. “Apa sebenarnya yang dipikirkan Arvian?” Tanya hatiku. Hah, aku berharap dia hanya sekedar ingin tahu, bukan karena dia memiliki perasaan yang sama sepertiku.
Entah apa yang terjadi, aku mendengar kabar Arvian dan jesica kini sudah jadian. Ya Allah,,, mengapa hal seperti ini terulang lagi padaku? Ketika aku mulai mencintai seseorang, ternyata dia mencintai orang lain. Sulit bagiku melihat mereka berdua selalu bersama. Aku sebagai sahabat, hanya bisa ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh kedua sahabatku. Namun, sebagai seorang wanita jauh didasar hatiku yang terdalam ada luka yang sulit untuk diobati.
Arvian kini jarang bersamaku. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya bersama jesica. Kalaupun disaat aku membutuhkannya, dia selalu membuat banyak alasan untuk tidak bisa bertemu denganku. Hah,,, aku benar-benar kehilangan dia.
“Maafkan atas semua kebodohan, keegoisan, dan semua kesalahan yang ku perbuat. Aku hanya ingin kamu bicara padaku lagi. Jangan mendiami diriku seperti ini. Ini semua membuatku tersiksa”.
Lambat laun setelah semua yang kulalui, kini aku menikmati kesendirian ini dengan menata kehidupanku yang baru. Tak ada yang harus aku sesali. Aku hanya butuh sebuah keyakinan untuk bisa bangkit menjadi diriku Vianda Amryta renaldy kayak dulu lagi. Menjadi pribadi yang tegar tanpa harus menangisi kenyataan yang menimpaku. Dunia ini begitu luas, sehingga aku tak harus merasa sempit untuk hidup di dunia ini. Tak ada yang bisa membuatku jatuh lagi.
Hingga suatu hari, Arvian datang padaku. Dia ingin memulai semuanya seperti sebelum-sebelumya. Dan aku menerima dia lagi sebagai sahabatku. Rasa yang dulu pernah ada kini telah terkikis habis oleh sang waktu. Kalaupun masih tersisa itu mungkin 0,01%. Dan rasa 99,99% yang tersisa hanyalah persaan sebagai sahabat.
Ketika Arvian meminta maaf karena telah menelantarkan persahabatan kami selama ini. Dan berharap kami bisa menjadi sahabat kayak dulu lagi, aku menerimanya dengan tangan terbuka. Ada satu hal yang selalu tertanam di pikiranku. Menurutku, semakin banyak sahabat, semakin banyak rezeki yang bakalan datang. Hehehe….
Aku tak mungkin tidak menerima Arvian menjadi sahabataku lagi. Karena Aku hidup di dunia ini bukan hanya sendiri dan terlebih lagi aku tak ingin rasa benci mengalahkan kekuatan cinta persahabat kami selama ini. Selain itu aku tak ingin menyakiti dia dengan tidak menerimanya sebagai sahabataku lagi. Aku hidup di dunia ini bukan untuk menyakiti orang lain. Tapi, Aku hidup di dunia ini untuk menabur kebahagiaan di setiap lembar-lembar kehidupanku bersama orang-orang yang mencintaiku, dan orang yang aku cintai.
Semuanya akan berjalan dengan baik. Itulah kata yang selalu ku tanamkan di dalam hatiku agar bisa melegakan apapun yang aku lakukan. Tetap optimis dan membuat keyakinan bahwa semuanya akan berakhir dengan bahagia. Bahagia bukan berarti harus membuatnya selalu menjadi sempurna. Tapi bagaiman kita bisa membuat orang lain tersenyum tanpa harus membuat sesuatu terlihat istimewa.
Hm…. Awan hitam menutupi cerahnya langit sore di makassar. Mungkin sebentar lagi bakalan turun hujan. Di beranda kost, aku duduk sendiri sambil memegang buku diaryku. Akupun terdiam dan memikirkan semua yang telah terjadi. Sambil mengingat kembali semua kenangan-kenangan pahit maupun manis bersama semua sahabat-sahabatku. Setelah itu aku pun teringat Arvian, sahabatku. Sambil mengingat kenangan bersamanya, aku meggoreskan tinta hitam diatas kertas putih diaryku.
“Aku mencintainya bukan karena keegoisanku, tapi aku mencintainya karena dia adalah milik Yang Maha Kuasa. Aku tak harus menuntutnya untuk mengikuti semua apapun yang aku mau. Yang aku inginkan hanyalah kebersamaan di setiap langkah. Bila ternyata dia mempunyai rasa yang sama seperti yang aku miliki, aku yakin Allah akan memudahkan jalannya untuk bisa menemukan rasa itu. Tetaplah bahagia bersama jesica, walau itu membuatku sakit. Aku sudah mengikhlaskan semuanya. Mungkin ini adalah jalan terbaik untukku, dia dan jesica. Aku tak ingin menyakiti hati jesica dengan cara merampas semua perhatiannya. Bila aku tak mendapatkan hatinya sebagai pacar. Aku berharap, aku mendapatkan hatinya sebagai sahabat.”
Genggaman Cinta-Mu
Cinta adalah anugrah dari yang maha kuasa
Semua orang memilkinya
Dan berhak mendapatkannya
Cinta bukanlah suatu musuh yang harus di benci
Tapi dia adalah sahabat yang akan selalu menemani….
Menemani di kala suka maupun duka
Terimakasih Ya Tuhan….
Karena telah memberikan cinta-Mu padaku
Melalui sosok orang-orang yang menyayangiku
Aku berharap, Engkau takkan pernah meninggalkanku
Dan takkan pernah melepaskan genggaman cinta-Mu untukku…..
Hidup memang susah untuk di tebak. Semuanya berjalan seakan sebuah cerita.
Cerita hidup yang harus kita jalani dan lalaui satu persatu. Aku berfikir, bila aku sudah melangkah kedepan, maka aku akan terus melangkah walau tekadang harus membuatku terjatuh. Namun, aku takkan pernah berhenti untuk terus melangkah. Aku akan menganggap di cerita hidup ini akulah yang jadi tokoh utamanya. Dan aku tak ingin digantikan menjadi peran pembantu di cerita hidupku sendiri. Tetap tersenyum dengan semua cobaan yang kuhadapi. Akan ku katakan pada setiap masalah yang kuhadapi, kalau aku tidak sendiri dan aku masih punya Tuhan yang selalu menyayangiku. Aku tahu disetiap serat lembar kehidupanku selalu ada cinta yang terselip untukku. Cinta itu datang dari Tuhanku, kedua orang tuaku, keluargaku, sahabat-sahabatku, dan orang-orang yang menyayangiku. Semangat!!!! ^_^
THE END
“ Tak ada cinta yang lebih indah selain cinta yang diberikan Tuhan kepada kita. Jagalah cinta yang ada pada dirimu saat ini! Jangan nodai cintamu hanya karena sebuah keegoisan. Jika kamu salah memberi cinta, maka cinta itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri.”
Terimakasih Cinta…. ^_@
Setelah Kepergianmu

Ku selalu mengingatmu, meski ku tahu itu menyakitkan..
Ku buka handphone ku, tak ada lagi kamu yang selalu memenuhi inbox-ku, tak ada lagi ucapan selamat pagi dan selamat tidur untukku. Tak ada lagi canda tawamu yang selalu mengiriku dalam kebahagiaan, tak ada lagi leluconmu yang membuatku tartawa. Tak ada lagi tatapan yang membuat jantungku berdebar dan menyejukkan hati. Tak ada lagi genggaman tanganmu yang selalu membuatku kuat akan setiap masalah yang menghampiriku. Tak ada lagi pelukanmu yang membuatku tentram dan merasa aman dekat denganmu. Kini, sekarang ada sesuatu yang hilang, tak sama seperti dulu.
Aku berharap hari-hariku bisa berjalan dengan mulus seperti biasanya., walau tak ada kamu disampingku. Kini, aku mencoba menjalani semua aktivitasku seperti biasa. Dan aku bisa menjalani itu semua walau hatiku terasa kosong, hampa tanpa ada dirimu yang menemaniku setiap harinya. Tapi, aku harus tetap tegar dengan semua ini. Setelah kepergianmu, aku menyadari betapa aku mencintaimu. Setelah kepergianmu, kamu merampas semua cinta dan kebahagiaan yang kupunya, melarikan ke tempat asing yang justru tak tahu dimana keberadaannya. Siksaanmu begitu besar untukku, dan aku terlalu lemah untuk mendapatkan cobaan ini, aku begitu lemah untuk mendapatkan goresan luka di benakku yang semakin hari semakin bertambah.
Kini ku tersadar, bukan dia yang begitu tulus menyayangiku, tetapi kamulah yang menyayangiku dan mencintaiku dengan tulus tanpa adanya kebohongan. Jujur, aku menyesal setelah kamu benar-benar pergi meninggalkanku disini bersama bayanganmu. Aku menyesal telah membuatmu kecewa, padahal aku tak bermaksud mengecewakanmu. Aku menyesal lebih memilih dia di banding kamu yang jelas-jelas kekasihku. Sudah jelas dia itu playboy dan sudah menyakitiku berulang-ulang kali dengan kebohongannya dan semua janji palsunya, tapi kamu berbeda, kamu begitu menjagaku, menyayangiku, dan aku sia-siakan begitu saja. Mengapa aku sebodoh ini?
Aku tak pernah membalas semua kebaikanmu padaku, dan aku tak pernah menyayangimu seperti kamu yang selalu menyayangiku. Bahkan aku selalu melampiaskan semua amarahku padamu, dan anehnya kamu yang meminta maaf padaku. Seringkali aku membohongimu seringkali aku berkencan bersama dia tanpa sepengetahuan kamu, dan itu berarti aku sedang bermain di belakangmu. Setiap kamu ingin bertemu denganku, aku sering menolak. Tapi mengapa aku tak bisa menolak dia setiap dia ingin bertemu denganku? Bahkan jika kamu mengajaku pulang bersama, aku tak mau dan menolakmu. Aku lebih memilih pulang bersama teman-temanku. Aku sadar itu semua salah, tapi mengapa aku terus mengulangnya kembali? Kamu pernah berkata kalau aku itu egois, aku tak menerima kamu berbicara seperti itu kepadaku, dan aku marah. Aku baru tersadar aku memang egois, benar katamu.
Dia selalu melaksanakan apa kemauanku, tapi aku tak pernah melakukan apa yang kamu mau. Hingga beberapa minggu kemudian kamu menjauhiku, kamu menghilang dari kehidupanku, kamu tak mengirimku kabar sama sekali. Hal itu membuatku marah dan aku berfikir kamu memutuskan ku secara sepihak, tanpa tahu permasalahannya apa. Kemudian, kamu menghubungiku di hari jadianku bersama kamu. Entah mengapa aku menjadi benci padamu, mungkin karena kamu menghilang beberapa minggu ini. Kamu mengajaku kencan di malam minggu ini, tapi aku menolak karena kamu bukan pacarku lagi. Aku berkata kepada kamu, lebih baik kamu pergi dari kehidupanku jangan pernah menghubungiku lagi, cari wanita lain di luar sana yang lebih baik dariku. Tapi nyatanya kamu malah meminta maaf padaku atas kesalahan kemarin telah menjauhiku. Kamu bilang kamu hanya ingin mengetesku. Tapi ini bukan cara yang benar. Aku tak bisa memaafkanmu, aku tak akan memberikanmu kesempatan lagi. Dan itu artinya sekarang kamu dan aku hanya sebatas teman biasa. Padahal sebenarnya aku benci dengan perpisahan ini.
Entah mengapa jika aku mengingat itu semua, beribu-ribu penyesalan selalu menghampiriku. Apakah kamu terluka karena ku?
Kita itu seperti saling menyakiti, seperti saling mendendam tanpa tahu apa permasalahan yang sebenarnya.
Aku menangis sejadi-jadinya di dalam heningnya malam, atas dasar bahwa aku memang benar mencintaimu. Aku merasa kehilangan sosok pahlawanku. Sementara aku selalu melihatmu dekat dengan wanita lain, dan mengapa wanita itu harus temanku sendiri? Kamu tak pernah tahu bahwa aku di sini menangis melihatmu bersamanya, aku cemburu..
Aku marah pada diriku sendiri, mengapa aku sulit untuk melupakanmu? Sedangkan kamu disana dengan mudahnya melupakanku.Tuhan..sungguh ini tak adil bagiku. Ingin rasanya aku hilang ingatan, agar aku tak mengenalimu dan kenangan dulu bisa terhapus di dalam memori otakku. Itulah jalan satu-satunya untuk saat ini. Hari berganti hari, aku terus menjalani hidupku tanpa dirimu. Dan aku merasa semakin hari aku selalu menyesali kesalahanku padamu. Apakah kamu disana sudah mendapatkan pengganti diriku? Aku harap kamu masih mengharapkanku, karena ku disini selalu mengharapkan kehadiranmu dihidupku lagi. Apakah kamu disana selalu memikirkanku?seperti aku yang selalu memikirkanmu. Aku hanya ingin tahu isi hatimu saat ini. Apa kamu tak pernah berpikir tentang isi hatiku saat ini? yang semakin hari semakin mendung karena tak ada lagi yang menyinari hatiku.
Di dalam mimpiku kamu selalu ada untukku, dan kamu milikku. Tapi ternyata, di dalam kehidupan nyata, kau hanyalah mimpi untukku dan aku sulit menggapaimu kembali. Tak ada hal yang mampu ku perjuangkan selain membiarkanmu pergi dan merelakanmu untuk orang lain yang pantas menapatkanmu. Aku berusaha menikmati kesedihanku, kesakitanku hingga ku terbiasa akan semua hal itu. Aku selalu meneteskan air mata untukmu, padahal setiap butiran air mata yang jatuh itu semakin aku merindukanmu dan sulit untuk melupakanmu. Kini aku merasa jatuh cinta padamu yang bukan milikku lagi.
Tapi aku punya Tuhan, punya keluarga dan sahabat, yang selalu ada untukku. Aku percaya Tuhan..Tuhan pasti sedang menguji kesabaranku saat ini, dan pasti ada jalan keluar di balik ini semua. Mungkin di mataku kamu yang terbaik untukku, tapi belum tentu kata Tuhan kamu yang terbaik untukku. Aku percaya dan yakin bahwa skenario Tuhan adalah yang paling indah.
Selesai
AKU MOHON DENGAN SANGAT KEPADAMU
Kembalilah wahai sayangku
Kembali padaku
Cintailah aku setulus hatimu
Karena aku tak bisa hidup tanpamu
Dan bila suatu saat nanti
Aku pergi
Bukan karena aku menyerah
Namun ku pergi karena waktu
Dan ruang yang memisahkan kita
Apabila itu terjadi
Maafkanlah bila aku
Tiada lagi disisimu
Karena kita terpisah ruang dan waktu
Bila saja waktu memihakku
Sejak dari awal sejal terakhir ku bertemu denganmu
Harusnya ku bilang sayang
Ku bilang cinta
Karena semua itu milikmu
Kemudian
Tetaplah jalani mimpimu
Meski saat itu nanti tak bersamaku
Karena bagiku
Bahagiamu damaikan hatiku.
Kembalilah wahai sayangku
Kembali padaku
Cintailah aku setulus hatimu
Karena aku tak bisa hidup tanpamu
Dan bila suatu saat nanti
Aku pergi
Bukan karena aku menyerah
Namun ku pergi karena waktu
Dan ruang yang memisahkan kita
Apabila itu terjadi
Maafkanlah bila aku
Tiada lagi disisimu
Karena kita terpisah ruang dan waktu
Bila saja waktu memihakku
Sejak dari awal sejal terakhir ku bertemu denganmu
Harusnya ku bilang sayang
Ku bilang cinta
Karena semua itu milikmu
Kemudian
Tetaplah jalani mimpimu
Meski saat itu nanti tak bersamaku
Karena bagiku
Bahagiamu damaikan hatiku.
Jumat, 06 Desember 2013
Biarkan Aku Menjadi Suaramu
Sejak awal, keluarga dari si wanita menolak dengan keras terhadap hubungannya dengan sang pria. Dikatakan bahwa pernikahan harus sesuai dengan latar belakang keluarga dan si wanita akan menderita seumur hidup bila bersamanya.
Karena tekanan keluarga itulah, pasangan ini sering bertengkar.. Meskipun si wanita mencintai si pria, ia terus bertanya pada si pria: "Seberapa dalam cintamu padaku?"
Karena si pria tidak pandai dengan kata-kata, sehingga sering menyebakan wanita merasa sedih. Dengan itu & tekanan keluarga, si wanita sering menumpahkan amarah terhadapnya. Sedangkan si pria, hanya menerimanya dengan diam.
Setelah beberapa tahun...
sang pria akhirnya lulus dan memutuskan untuk melanjutkan studi nya di luar negeri. Sebelum pergi, ia melamar si wanita: "Aku tidak terlalu baik dalam kata-kata. Tetapi yang aku tahu bahwa aku mencitaimu. Jika kamu mengijinkannya, aku akan menjagamu seumur hidupku. Sedangkan untuk keluargamu, aku akan mencoba yang terbaik untuk bicara pada mereka. Maukah kau menikah denganku?"
Si wanita setuju & dengan keteguhan hati sang pria, keluarga wanita akhirnya menyerah dan setuju terhadap pernikahan mereka. Sebelum pergi, mereka akhirnya bertunangan.
Sang wanita pergi bekerja, sedangkan sang pria berada di luar negeri, melanjutkan studi nya. Mereka berkomunikasi lewat email & telepon. Meskipun berat, tetapi mereka tidak pernah berpikir untuk menyerah.
Suatu hari...
saat sang wanita dalam perjalanan ke tempat kerja, ia ditabrak oleh sebuah mobil yang kehilangan kendali. Saat ia bangun, ia melihat orang tuanya berada di dekat tempat tidurnya. Ia menyadari bahwa ia cedera serius. Melihat ibunya menangis, ia mau menghiburnya. Tetapi ia menyadari bahwa yang keluar dari mulutnya hanyalah rintihan. Ia kehilangan suarany,,,....
Dokter berkata bahwa benturan di kepalanya menyebabkan ia kehilangan suaranya. Mendengarkan hiburan dari orangtuanya, tetapi tidak ada yang bisa keluar dari mulutnya, ia merasa hancur.
Saat tinggal di rumah sakit, hanya tangisan sunyi yang menemani dia. Saat sampai di rumah, segalanya tampak sama. Kecuali suara dering telepon. Yang menusuk hatinya setiap berbunyi. Ia tidak ingin sang pria tahu dan tidak ingin memberi beban padanya, ia menulis surat pada si pria bahwa ia tidak ingin menunggu lebih lama lagi.
Dengan itu, ia mengirim kembali cincin kepada si pria. Sebagai gantinya, si pria mengirimkan balasan, dan menelepon berkali-kali.. namun yang bisa dilakukan si wanita hanyalah menangis..
Orangtuanya memutuskan untuk pindah, berharap si wanita melupakan segalanya dan menjadi gembira.
Akhir cerita...
Di lingkungan yang baru, sang wanita belajar bahasa isyarat dan memulai hidup yang baru. Ia mengatakan pada dirinya sendiri, bahwa ia harus melupakan si pria. Suatu hari, temannya datang & mengatakan bahwa si pria kembali. Ia meminta temannya untuk tidak memberi tahu si pria apa yang terjadi. Sejak itu, tidak ada lagi berita dari si pria.
Satu tahun telah berlalu dan temannya datang dengan sebuah surat, berisi sebuah undangan dari pernikahan si pria. Si wanita merasa kecewa. Ketika ia membuka surat itu, ia melihat namanya di sana.
Saat ia akan bertanya pada temannya apa sebenarnya yang sedang terjadi, ia melihat si pria berdiri di depannya. Si pria menggunakan bahasa isyarat yang mengatakan "Aku sudah menghabiskan waktu selama setahun untuk belajar bahasa isyarat. Katakan saja padaku bahwa kamu tidak melupakan janjimu. Berikan aku kesempatan untuk menjadi suaramu. Aku mencintaimu." Dengan itu, sang pria menyisipkan cincin itu dijarinya. Ia pun tersenyum.
Cinta sejati adalah rasa sayang yang tidak mengenal kelemahan dari pasangannya. Bisa kita ambil hikmah dari kisah cinta mengharukan bagian kedua ini. Sang pria tidak peduli bahwa kelemahan wanita yang dia cintai, karena dia memang menganut bahwa cinta sejati tidak memandang hal yang selalu sempurna dari pasangan kita
<div style="position: fixed; right: 0px; left: 10px;width:210px;height:120px;"><a href="http://permathic.blogspot.com/2012/05/kumpulan-animasi-bergerak-yang-lucu-dan.html"
target="_blank"><img border="0"
src="http://content.sweetim.com/sim/cpie/emoticons/00020236.gif"
title="Click to get more."
/></a><small><center><a
href="http://permathic.blogspot.com/2012/05/kumpulan-animasi-bergerak-yang-lucu-dan.html"
target="_blank">Widget
Animasi</a></center></small></div>
Langganan:
Postingan (Atom)